BUDIDAYA DOMBA DAN KAMBING ETAWA
![]() |
Penampakan domba yang aku pelihara usia kurang lebih 1 tahun |
Dulu
memelihara kambing tak ada dalam pikiran. Ternyata ada keasyikan
tersendiri, saat menekuni hobi ini. Banyak kendala dalam memulai
ternak yang satu ini. Ada rasa gengsi, jijik, dan seribu mental
blok yang harus di hancurkan.
Mula-mula
aku memelihara burung berkicau, karena ikut-ikutan teman. Penasaran
sebenarnya apanya sih enaknya kok sampai teman-teman sampai suka sama
burung. Seminggu memelihara ternyata bukan senang malah pusing,
apalagi saat melihat sangkar yang berjeruji-jeruji, tersiksa rasanya.
Ini sepertinya bukan passionku. Pernah juga ayam kampung aku
pelihara. Dari usaha yang satu ini banyak sekali modal yang aku
tanam. Dari beli jaring untuk pagar, pakan katul yang pembelianya
sampai sekarung besar, mesin penetas dan ayam anakan. Bersama dengan
itu bebek petelur tak ketinggalan aku pelihara. Ternyata hasilnya
kurang maksimal. Atau boleh dibilang rugi. Karena ungas memiliki daya
tahanya kurang baik. Apalagi saat memasuki kemarau. Jangan ditanya
akan ada banyak terjadi kematiannya.
Sempat vakum dari memelihara hewan, kurang lebih beberapa bulan. Tergugah kembali saat tetangga ada yang memelihara domba dengan sistem fermentasi. “Dengan tambahan SOC (Suplemen Organik Cair), kotoran tidak bau”, kata pak Widodo. “Ah masak iya to pak”, tanyaku penasaran. Selang beberapa hari aku survey ke kandang milik pak Widodo ternyata benar apa yang dikatakan tempo hari. Aku jadi tertarik dengan kambing. Setelah itu aku banyak membaca artikel dan buku mengenai perkambingan ini. Mulai dari prospek, analisa usaha serta cara budidaya.
Memulai
ternak kambing, kendala pertama yang harus aku hadapi yakni pembuatan
kandang. Sebab aku tak yakin bisa, tanpa bantuan seorang tukang
kayu. Ada rasa malu untuk minta bantuan. Karena usaha yang aku coba
bangun kurang berhasil kemarin. Ternyata dengan ijin Allah SWT aku
dapat membuat kandang tanpa bantuan tukang. Pembuatan kandang hampir
90 % aku kerjakan sendiri, dengan dibantu oleh istriku. Walau dengan
susah payah akhirnya jadi juga. Kandang kambing ini adalah karya yang
monumental bagiku. Karena ternyata aku bisa, aku terlalu meremehkan
kemampuanku sendiri.
Pertanyaan
selanjutnya yakni domba atau kambing yang akan aku pelihara ?
pertanyaan ini butuh waktu dan pemikiran untuk dijawab. Akhirnya aku
memilih domba ekor gemuk untuk mengisi kandang. Dengan pertimbangan
mudah dalam pemeliharannya. Sebab belum pengalaman. Survey sana
survey sini. Hingga akhirnya aku beli di pasar hewan Buyaran Demak.
Membeli dua ekor. Induk dan anaknya. Aku berharap ini akan beranak
pinak. Tak tahu kenapa setelah dipelihara hampir satu tahun, tak ada
tanda-tanda si betina bunting. Oleh karena itu hari idul adha kemarin
pejantanya aku jual kurang lebih Rp. 2.300.000,-. Aku senang sekali
sebab baru kali ini bisa memegang uang sebanyak itu dari penjualan
ternak. Bagi sebagian orang mungkin nilai yang kecil namun bagi aku
itu anugrah yang mahal harganya.
Alhamdulillah
uang hasil penjualan domba jantan kini telah berganti dengan kambing
PE (Peranakan Etawa) dua ekor, jantan dan betina. Kala itu kami beli
saat moment idul adha tepatnya tahun 2015. Kambing masih cempe
(anakan kambing ). Menurut mas Arifin (penjual kambing), kambing
tersebut di dapat dari Rembang. Dikirim bersama pengiriman kambing
kurban.
![]() |
Domba makan kangkung saat musim kemarau panjang. |
Pengalaman
memelihara kambing dan domba, ada karakteristinya sendiri. Untuk
domba, lebih suka pada rumput-rumputan. Sementara kambing cenderung
memilih pakan yang berada diatas (rambanan). Untuk minum domba lebih
sering minum dibanding kambing. Disamping itu kambing lebih agresif
dari pada domba. Kebiasan lain dari kambing yakni suka berdiri
dengan dua kaki untuk meraih pakan.
Kesimpulan
dari budidaya kambing adalah beternak kambing lebih mengasikan dan
menjanjikan di bandingkan unggas. Karena lebih tahan dari penyakit
dan perubahan musim. Tapi budi daya kambing butuh tenaga extra untuk
memenuhi pakan dan dan pemeliharaanya. Untuk masalah bau yang
mungkin ditimbulkan, maka butuh semacam produk EM 4 untuk
menetralisirnya. Ini cukup efektif. Harga EM 4 pun cukup terjangkau
kurang lebih sebesar Rp. 20.000,- , bisa dipakai hampir satu
bulan.