Minggu, 07 Februari 2016

PENJUALAN AYAM DI HARI RAYA



PENJUALAN  AYAM  SAAT  MOMENT  HARI  BESAR



Gambar Penjual dan ayam daganganya di salah satu sudut pasar Waru Kota Semarang yang di ambil fotonya tahun 2014
Penjualan ayam mendadak akan meningkat tajam saat moment hari besar. Ini sudah jamak dan sulit dihindari. Hal ini adalah dampak dari adanya hukum permintaan dan penawaran. Hampir tiap keluarga butuh barang yang satu ini. Karena ada yang kurang jikalau pada hari tersebut, diatas meja tidak ada hidangan yang berupa daging.
Untuk memenuhi lauk tersebut, daging ayamlah yang pas dan mudah diperoleh sebagai salah pilihan. Pas dalam arti cukup untuk satu keluarga, kalau ada sisa atau ada kurangnya paling sedikit. Dan yang lebih pokok adalah daging ayam lezat di lidah dan enak di mulut.

Hari semacam itu akan menjadi berkah tersendiri bagi penjual dan peternak ayam . Sebab apa yang di nantikan dalam masa pembesaran berbuah manis. Lembaran-lembaran rupiah mengalir ke kantong mereka. Lelah, letih dan penat telah terbayar berganti kulum manis yang mengantung di sudut bibir mereka. Dan panjatan syukur ke haribaab Allah, Tuhan semesta alam meluncur dari bibir atas semua nikmat dan karuniannya.

Kira-kira ayam apa yang dicari pada hari itu ya ? Yang paling diminati adalah ayam lokal (ayam kampung) yang memang terasa spesial rasanya. Sebab dipelihara dengan di umbar (jawa). Dibebaskan berkeliaran di pekarangan rumah. Bahkan berlarian pun boleh. Jadi akibat pemeliharaan yang tradisional inilah memiliki hal positif antara lain daging ayam yang enak. Disamping hal positif tersebut pemeliharaan semacam ini pun tak luput dari sisi kurangan. Antara lain karena diberi minum dan pakan pemacu pertumbuha akan kurang baik bagi manusia.

Kalau dihitung-hitung konsumsi ayam pada dekade terakhir ini, bukan lagi hal yang istimewa. Sebab hampir setiap hari kita disuguhi hidangan ini. Industrialisasi ayam boiler telah membawa pengaruh yang sangat besar terhadap pola konsumsi daging ayam. Yang semula ayam baru bisa di panen beberapa bulan kedepan dengan cara dan teknik terbaru daging ayam telah di panen beberapa minggu. Tentunya produk daging dan telor ayam akan membanjiri pasar-pasar. Sehingga harga menjadi kian terjangkau oleh masyarakat berpengasilan ke menengah bawah.



Senin, 01 Februari 2016

Panen Daun Singkong

PANEN DI KEBUN SENDIRI

Cuaca yang mendukung. Di hempas semilir angin dengan langit yang tertutup awan pas rasanya untuk bekerja di alam terbuka. Nikmat memang bercengkrama dengan alam. Hujan akhir-akhir ini memang membuat bumi seolah merekah kembali. Setelah sepajang kemarau kemarin sempat begitu gersang. Jadi teringat saat silaturahmi ke boyolali tempo kemarin. Emang benar saat itu pemandangan yang tertangkap mata adalah hamparan sawah yang merana karena air tak membasahi. Namun kali ini alhamdulilah sejuk di mata sejuk di hati.

Al kisah kami di anugrahi sejengkal tanah di belakang rumah yang lebarnya sih tak seberapa. Namun patut bagi kami mensyukurinya. Di tempat inilah hampir tiap sore lepas asar banyak waktu yang aku curahkan. Bukan cuma waktu namun juga tenaga. Asik dan mengasikan. Seakan stres dan beban pikiran bisa lepas manakala melakukan kegiatan yang satu ini. Berkebun sebagai hobby. Rasa penat dan letih sepertinya tak terasa. Apalagi saat butiran peluh yang kemarin menetes berubah menjadi tanaman yang hijau dan subur. Seolah telah terbayar. Dan ada lagi bonus dari kegiatan yang satu ini. Badan terasa lebih fit.

Pisang, singkong, katuk, ketrela rambat. Menghiasi kebun kami. Tapi yang paling dominan dari kesemuannya adalah tanaman singkong. Maksud hati aku sengaja menanam pohon yang satu ini karena minim perawatannya dan memiliki nilai ekonomis yang cukup lumayan bila diseriusi. Terutama sekali daun yang aku tuju. Dengan pertimbangan bisa panen lebih dari sekali. Karena disana ada beberapa jenis singkong, maka aku hanya memilih singkong yang daunya panjang yang aku ambil daunnya. Selebihnya aku ikuti kata orang tua, untuk mengambil umbinya bagi singkong yang daunya agak lebat.

Dengan kambing yang aku pelihara dikandang dua ekor. Membuat aku mau tak mau untuk mencari pakan. Yang artinya aku harus ke ladang. Kotoran kambing yang bagi sebagian orang bau dan menjijikan, bagi aku adalah berkah yang harus aku manfaatkan sebaik-baiknya untuk pupuk. Dapat terlihat dari performa tumbuhan kami. Terutama pisang yang aku utamakan untuk pemupukan. Batangnya besar, daunya hijau ranum. Tak hayal menarik hati bagi siapapun yang memandang. Tak terkecuali aku. Tiap tujuh hari aku dapat satu ember cat ukuran besar kotoran kambing. Untuk saat ini ada yang berminat untuk mendapatkannya. Namun apa daya aku juga membutuhkan.


Tepat senin sore ini. Habis sholat asar,seperti biasa setelah mengantar ngaji anakku ke Mbugen. Aku bingung cari kegiatan apa. Karena aku pikir semua aku telah kerjakan. Termasuk mencari pakan. Dan aku bersihkan kandang saja. Setelah selesai. Tampak daun singkong yang telah lebat. Aku bergegas memetiknya satu persatu. Setelah itu aku ikat. Dapat 5 ikat. Laku semua. senang sekali. Kebahagian yang sederhana. Intinya ada kebahagain yang menyusup k dalam jiwa. Terima kasih ya Allah.

Jumat, 29 Januari 2016

RUGI MAKAN DILUAR

KERUGIAN MAKAN DI LUAR (JAJAN)

            Malam semakin larut. Kekhusuaan doa yang dipanjatkan oleh jaamah tahlil di kampung kami terasa bisa mengetarkan kalbu bagi siapa saja yang menghayati dengan khusus doa yang dipimpin oleh pak ustadz. Sudah jamak bagi kami terutama kaum pria jika malam Jum'at tiba, lepas isyak kegiatannya adalah Tahlilan. Dan acara ini tidak dipatok di satu tempat. Namun berpindah menurut urutan jadwal. Kebetulan malam ini adalah giliran di tempat kami.
           Usai doa seperti basa acara ramah tamah alias makan-makan. Entah kenapa saat acara seperti rasa kantung yang tadi mengelayuti mata mendadak sirna. Seolah segar layaknya bangun pagi. Karena tidak memasak sendiri mau tak mau harus memesan makanan dari luar. Sengaja kami memesan kuliner ini karena soal rasa boleh diadu dengan restoran negeri. rasanya begitu nikmat. Mengugah selera sehingga bagi siapa saja yang pernah mencicipi hidangan yang satu ini akan ketagihan.
          Makanan sudah dihidangkan dan telah habis disantap. Sepertinya yang hadis puas dengan hidangan yang kami pilih. Dan kami pun merasa puas juga melihat mangkok-mangkok telah hais makanan, yang tersisa cuma kuah itupun tak seberapa. Segera kau ambil inisiatif untuk mengembalikan mangkok yang telah kotor ke penjualnya. Dan aku pun taklupa menyipkan panci utnuk mengambilkan air bersih. Namun dengan santai si penjual tak memanfaatkan fasilitas yang aku tawarkan dengan free (gratis). 
              Dan alangkah terkejutnya aku melihat si penjual mengelap begitu saja mangkok yang telah terpakai tadi. Padahal menurut pemikiranku mankok itu kalau di berlakukan demikian kurang bersih dan higienis. Irit, cepat,dan praktis cara membersihkan yang demikian sih emang. Tapi ...... Apa aku yang terlalu bersetandar tinggi menuntut kebersihan yang harus digunakan. Semenjak kejadiaann itu mata ini jadi terbuka berarti penjual lain tidah jauh berbeda dalam memperlakukan piring kotor, sendok kotor, mangkok kotor. Jadi utntuk makan di luar nanti dulu. Enak masakan Istriku. Bersih, Enak dan Ngirit. 

Minggu, 11 Januari 2015

Pisang Kepok

          POHON PISANGKU


               Di pekarangan rumahku tumbuh tanaman pisang. Ada pisang kepok, klutuk, raja. Mungkin bagi orang yang tidak ada minat sama buah yang satu ini, melihat pohon yang satu ini adalah yang lumrah , biasa. Namun dalam pandanganku, sepertinya antara pisang dan aku ada hal yang istimewa. Setiap aku lewat , aku pandangi buahnya yang besar. Apabila ada yang ngobrol masalah pisang, aku dengan antusiasnya, ku ceritakan  pengalamanku dengan pisangku. Bagaimana aku merawatnya, pupuk apa yang aku berikan,batangnya besarnya seberapa. Aku seolah-olah bisa mengambarkan dengan jelas.

           Karena pisang itu melintang diatas kabel PLN aku sempat dibuat bingung olehnya. Mulai pertanyaan berkecamuk di dada ini. Dan otak mulai bekerja gimana cara untuk memanenya kelak apa bila sudah sampai pada waktunya. Yang pasti aku harus bisa menyelamatkan pisang itu agar tidak rusak dan terhindar dari bahaya sengatan listrik yang siap mengancam nyawa jika sekali saja aku ceroboh.

              Betul juga hari masaknya pisang itu telah tiba. Satu buahnya sudah tampak menguning. Girang bukan kepalang aku dibuatnya.Strategi untuk memanen pisang yang telah aku susun, hari ini harus aku laksanakan. Segera aku ambil sabit yang biasa aku buat cari rumput. Daun mulai jadi target pertamaku, setelah tak lupa dipersiapkan  tangga untuk memanjat. Satu daun sudah gugur ke tanah.  Dan akhirnya sampi pengambilan buah. Mendadak aku punya ide ubntuk mengambil sesisir demi sesisir. Sebab bila aku ambil semua aku takut aku tak dapat menahan beban berat pisang dan besar kemungkinan aku juga akan ikut jatuh. Dan ini semua tidak boleh terjadi. Bagaimanapun keselamatan lebih utama ketimbang pisang, walau aku suka. Alhamdulillah semua berjalan dengan baik. Terima kasih ya Allah. Buah pisang sudah berhasil di panen.

Selasa, 05 Februari 2013

Perasaan Dan pikiran

Hanya orang yang waras perasaan bisa berfungsi dengan baik. Atau orang gila juga punya perasaan yaa ...?
Seperti yang terkadang aku alami sendiri. Manakala antara hasrat dan kenyataan bertolak belakang yang terjadi sebuah perasaan yang berkecamuk. Aku berdoa moga aku di beri petunjuk dari yang maha perkasa Amin,

Baik mana orang yang dipengaruhi sama perasaan dengan orang yang dipengaruhi dengan pikiran ??
Kalau menurut aku orang dilengkapi dengan perasaan dan pikiran. Orang yang dipengarui perasaan sangat susah utntuk membedakan mana yang benar dan aman yang salah. Sebagai contoh saat seorang ibu sayang pada anaknya dia akan membela mati-matian apapun yang terjadi walaupun nyawa sebagai taruhannya, mennghadapi musuh sekuat apapun. Gila ndak ya ini ...
Sedangkan orang dengan tipe orang yang sangat dipengaruhi dengan pikirannya, Ia akan berpikir dulu untuk mengambil keputusan.dan kadang terlihat kejam sebab tidak peduli itu teman asal ada yang tak sesuai menurut pandanganya harus diambil tindakan.
Masing punya sisi positif dan negatifnya sendiri sendiri. yang penting kita tidak menjastifikasi tipe a lebih baik sementara tipe b kurang.karena pada prinsipnya keseimbanganlah yang terbaik.


Karier yang pas untuk kedua tipe tersebut ?
Orang yang melankolis / terbawa perasaan pasnya sebagai perawat, penulis, seniman, guru, sukarelawan.
sedangkan rang dengan tipe logis menurut hemat aku memilih bidang  yang bersifat teknis, hakim, sekuriti, pilot. Tau pilih yang dapat enjoy. Asal tidak merugikan orang lain.

Jumat, 01 Februari 2013

PENGALAM BETERNAK

Mungkin tak semua orang di beri kesempatan untuk mengebal ayam lebih dekat. Kegiatan memelihara piaraan emang bermacam-macam. Dari yang umum dipelihara samapi dengan yang tak lazim seperti harimau, bahkan mungkin jika ada dinao saurus, manusia akan memeliharannya. Dalam hal memelihara ada filosofi yang terkandung. Diantaranya sebuah tanggung jawab, kedisiplinan, mengharagai waktu dan menumbuhkan rasa empati.

Emang sih tak banyak jumlah yang aku pelihara kurang lebih 20-an, terdiri dari mentok, dan ayam. Suka duka pasti selalu mewarnai setiap perjalanan hidup. Termasuk beternaka. Senangny saat melihat ayam tumbuh sesuai yang diharapkan. dukanya jika kehabisan ransum utnuk diberikan pada unggas. 

Bulan lalu lele dalam terpal pernah aku usahakan. Besar harapanku terhadap lele dapat sebagai tambahan uang untuk memenuhi kebutuhan kami. Setelah proses eksperimen yang pertama, ternyata antara besaran lele tak seperti jika pemeliharannya di kolam tanah. "High cost " kata orang bule. Pergantian air, banyaknya bibit yang mati. Untuk sementara aku belum bisa memelihara lele sekali lagi. Sebab kayu sudah lapuk.Dan waktu untuk membenahi belum ada atau aku yang malasa untuk mengerjakan.

Tetunya masih banyak yang bisa  untuk diceritakan namun karena sebuah keterbatasan tulisannya nyambung lain waktu. Harapanku dengan aku menulis aku bisa mendapatkan amal jariyah dari pembaca yang membaca tulisan ini. Amin.

Kamis, 01 Desember 2011

urbanisasi


STOP URBANISASI

Tinggal di kota yang banyak kaum urbannya, seperti di semarang mungkin harapan bagi orang desa disekitarnya untuk meningkatkan kesejahteraan. Seperti sebuah lampu yang bersinar terang di malam hari hingga menarik laron-laron untuk berkumpul. Apakah ini bertanda bartanda kota menawarkan hal yang  lebih dari desa  ? Pernah suatu saat aku berlebaran ke salah satu kota kabupaten di jawa tengah, pemandangannya sangat berkebalikan dengan yang ada kala hari biasa. Ramai, meriah dan penuh dengan kendaraan yang berplat dari ibu kota propinsi saat idul fitri. Lain lagi akan terasa senyap manakala hari biasa, yang terlihat adalah penghuni dengan usia yang dibilang tidak muda lagi. Ada apa dibalik peristiwa ini ? Lalu aku mencoba untuk coba-coba menganalisa dan menarik suatu kesimpulan yang bersifat dugaan. “ Barangkali ini karena lapangan kerja di pedesaan yang terbatas, kemudian generasi mudanya mencoba mengadu nasib di perkotaan.”
Setelah dilihat di sekitar kampungku saja yang berdiri pabrik garment SC, ternyata para pekerjannya adalah dari kaum migran dengan seribu satu alasan masing-masing. Untuk pindah ke ngablak. Salah satunya untuk memperbaiki nasib tadi. Dalam benakku timbul bayangan yang mana apabila ini tidak diantisipasi maka kota  akan semakin sesak dan desa akan sunyi. Dan sumber pangan akan terjadi kelemahan sebab petani dari generasi muda akan langka. Ketahanan pangan akan terancam ….? Setelah ini terjadi, insya allah generasi muda akan sadar dan akan kembali kebasis pangan yang telah ditinggalkan. Program dari pak Bibit Waluyo tentang ‘mbali desa mbangun desa “, kurang lebih aku sependapat. Kekuatan pangaman pangan perlu dipertahankan, namun jangan  sampai mengorbankan petani yang telah bercucuran keringat,. Dengan menghargai pangan sangat rendah yang ujung-ujungnya petani kurang makmur.
Guna pemerataan ini salah satu hal yang bisa di pertimbangkan adanya  sarana dan prasaran transportasi sehingga hasil yang telah dicapai oleh petani  dapat dengan mudah sampai ketanggan konsumen, hingga resiko kerusakan hasil pertanian bisa diminilalisasi.  Perlu perjuangan dan kerja keras untuk mewujudkan itu semua. Dan bukan saatnya ada dikotomi antara kota dan pedesaan semua harus ada pembangunan yang berimbang. Sehingga tak ada kecemburuan.